Menag Prof Nasaruddin Kukuhkan Ali Halidin Sebagai Guru Besar IAIN Bone

Watampone,BentengNews.com—Menteri Agama (Menag) RI Prof Dr KH Nasaruddin Umar mengukuhkan langsung Prof. Dr. Ali Halidin S.Ag,M.Pd.I sebagai guru besar di Hotel Novena, Watampone, Senin, 1 Desember 2025. 

Pengukuhan ditandai dengan pemasangan selempang guru besar. Ali Halidin dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang kepakaran Ilmu Sosiologi Pendidikan Islam. Pengukuhan ini merupakan rangkaian acara wisuda sarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone. 

Selain Ali Halidin, Prof.Dr. Aminullah M.Pd.I jg dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang kepakaran ilmu pendidikan Islam. Kehadiran Nasaruddin disambut hangat dan meriah oleh para hadirin. 


Bahkan Rektor IAIN Bone Prof. Dr. H. Syahabuddin MA seperti tak punya cukup kata untuk menggambarkan kegembiraannya atas kehadiran menteri yang juga dikenal sebagai ulama kharismatik asal Kabupaten Bone ini. 

Syahabuddin menggambarkan bagaimana kedalaman ilmu, kerendahan hati, kesederhanaan sang menteri yang memang dia kenalnya sejak dulu. "Beliau yang membantu saya. Beliau yang mengantarkan saya hingga ke jenjang seperti saat ini," kata Syahabuddin.

Nasaruddin dan IAIN memang tidak bisa dipisahkan. Nasaruddin menempuh pendidikan dan akhirnya mengawali karier sebagai dosen di IAIN Alauddin Makassar (kini Universitas Islam Negeri Alauddin).

Dalam sambutannya, Nasaruddin yang juga Ketua Asosiasi Imam ASEAN ini, mengatakan, dua guru besar yang dikukuhkan itu adalah aset IAIN Bone yang sangat berharga yang mudah-mudahan bisa berkontribusi banyak.

Nasaruddin juga banyak menyampaikan wejangan kepada para wisudawan. Salah satunya mengingatkan "genetik" ke-Bone-an dan memegang teguh nilai budaya Bugis Bone.

Imam besar Masjid Istiqlal ini juga mengingatkan bahwa alumni IAIN harus menjadi cendikiawan.  Artinya, punya ilmu, melaksanan ilmu yang diketahuinya, dan bermanfaat untuk masyarakat dan lingkungannya. "Kalau ilmuan itu, dia hanya sebatas memahami teori. Kalau Intelektual, dia memahami teori dan mengaplikasikannya untuk dirinya. Kalau cendikiawan, dia memahami teori, lalu melaksanakannya, kemudian dia bermanfaat untuk dirinya dan orang lain," urainya.

Sementara itu, Ali Halidin yang kini menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Bone, membawakan orasi pengukuhan berjudul Moderasi Ibadah: Konstruksi Sosiologis  Pendidikan Islam.

Ali Halidin langsung menggarisbawahi bahwa Islam tidak akan dapat dipahami dengan universal dan humanis tanpa mendekatinya dengan perspektif sosiologis. 

Begitu pula dalam pelaksanaan pendidikan, semua tentu punya diskursus atau studi sentris. Beberapa gejala dalam masyarakat kaum muslimin, termasuk persoalan hidup, ekonomi sampai agama, semua mutlak dikaji dengan sosiologis pendidikan. 

Persoalan ibadah juga memiliki cakupan yang jelas dan hubungan mendasar kepada sosial baik kemasyarakatan maupun peribadatan dalam arti (taabbudiyah) menghambakan diri kepada Allah Swt.

Ali Halidin yang juga Pembina Pondok Pesantren DDI Al-Hannan Seppange, banyak mengutip teori klasik dalam kajian agama, terutama dari para filsuf Barat seperti Lucretius, David Hume, dan Sigmund Freud. 

Menurut Ali Halidin, para filsuf ini menyimpulkan bahwa agama muncul karena manusia takut pada hal-hal yang tidak mereka pahami: kematian, bencana alam, kesendirian kosmik, atau ketidakpastian hidup.

Pendapat filsuf lainnya, Karen Amstrong, yang memiliki studi mencari tuhan, juga memiliki kesimpulanm bahwa tuhan ada pada rasa ketakutan manusia.

Negasi dari para filsuf Barat, Ali Halidin mengutip pendapat para ilmuan Islam klasik, seperti Al Ghazali. Dalam karyanya Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghzali menjelaskan bahwa: Kecenderungan manusia menuju Allah adalah gharizah (naluri) bawaan, seperti naluri mencari kebenaran dan kasih sayang. 

Selanjutnya Al-Ghazali mengatakan, ketakutan hanya berfungsi membangunkan kesadaran. Sementara ilmuan Islam lainnya, Ibn Taymiyyah menyatakan bahwa pengakuan terhadap tuhan adalah kebutuhan ruhani yang alami.

Ibn Taymiyyah dalam Dar’ Ta’arudh al-‘Aql wa al-Naql, kata Ali, menolak teori ketakutan sebagai pondasi agama. Ia menyatakan bahwa mengenal Allah adalah kebutuhan jiwa yang lebih besar daripada kebutuhan tubuh terhadap makan dan minum. Ibnu Taymiyah jelas berbeda pendapat dengan Lucretius, David Hume, dan Sigmund Freud serta Kafen Amstrong, dengan sintesa yang dia kemukakan.

Buktinya, menurut Ibn Taymiyyah, masyarakat yang hidup aman dan makmur tetap beragama. Jika agama berasal dari ketakutan, maka orang yang kuat dan tidak takut seharusnya tidak beragama faktanya mereka juga beragama.

Kesimpulan Ali Halidin dalam orasi tersebut mengatakan, sosiologi pendidikan Islam merupakan bagian dari sebuah kajian keislaman dengan wilayah telaah materi ajaran pendidikan agama yang lebih komphrehensif, dan fenomena kehidupan beragama. 

Ibadah memiliki basis sosial yang jelas, sosial dijadikan Allah sebagai solusi pelanggaran atas dosa syar’i yang dilakukan, sehingga secara metodologis pendidikan Islam harus menempatkan aspek sosial sebagai elemen yang sangat penting dalam pengembangan p-nilai kemanusiaan dan kajian keislaman. 

Ibadah berbasis sosial menjadi formula yang senantiasa mutlak dipertahankan. Formulasi ini akan membentuk konteks normatif keagamaan dan fenomenologi masyarakat beragama. Formulasi ini harus bisa dijangkau oleh kaum muslimin dengan pendekatan tentang Islam yang merupakan objek kajian yang memiliki pengaruh atas semua aspek kehidupan manusia.(*)

Data Diri

Nama: Prof Dr Ali Halidin S.Ag,.M.Pd.I

Lahir: Kendari 25 April 1976

Pekerjaan: Dosen IAIN Bone

Jabatan: Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah 

Pendidikan:

-SD Inpres Tello Baru Makassar

-Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Darul Lughah Wadda’wah Raci Bangil, Pausuran, Jatim

-Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Lughah Wadda’wah Raci Bangil, Pasuruan, Jatim

-S1 Fakultas Ushuluddin UMI Makassar

-S2 Program Studi Pendidikan Islam IAIN Alauddin Makassar

-S3 Program Studi Pengkajian Islam Konsentrasi Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Keluarga:

Istri: Dr St Zakiah S.Ag, M.Pd.I

Anak:

1.  Naila Rif'atul Islam

2. Naisyah Zumratul Islam