Menurut Pakar, 3 Jurusan SMK Ini Sudah Tidak Relevan dengan Dunia Kerja Mulai 2026

BentengNews.com-- Dunia pendidikan kejuruan tampaknya harus segera melakukan penyesuaian. Hak itu untuk mengantisipasi perubahan cepat dunia kerja akibat kemajuan teknologi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan membuat relevansi sejumlah jurusan SMK kembali dibahas menjelang tahun 2026.

Kebutuhan industri yang semakin spesifik memunculkan kesenjangan antara kompetensi lulusan sekolah menengah kejuruan dan kebutuhan pasar tenaga kerja.

Kondisi tersebut mendorong evaluasi serius terhadap sejumlah jurusan SMK yang dinilai tidak lagi sesuai dengan kebutuhan dunia kerja modern.

3 Jurusan SMK yang Mulai Tidak Relevan pada tahun 2026

Pengamat pendidikan dari Perguruan Taman Siswa, Darmaningtyas, menyoroti ketidaksesuaian sejumlah jurusan SMK dengan realitas kebutuhan tenaga kerja saat ini.

Menurut Darmaningtyas, terdapat tiga jurusan SMK yang mulai kehilangan relevansinya karena kompetensinya tumpang tindih dengan ijazah jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Jurusan SMK yang mulai tidak relevan dengan dunia kerja mulai tahun 2026 adalah:

Administrasi Perkantoran

Manajemen

Akuntansi

Darmaningtyas menilai kebutuhan tenaga kerja di bidang tersebut kini lebih banyak dipenuhi oleh lulusan politeknik dan sarjana strata satu.

“Kemampuan lulusan SMK dari jurusan-jurusan itu tidak mungkin mampu bersaing dengan lulusan politeknik atau S1. Sementara itu, anak-anak SMK yang mengambil program tersebut belum tentu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,” katanya seperti dikutip dari Kompas.com, Rabu (31/12/2025).

Ketimpanggan kompetensi tersebut berpotensi membuat proses pembelajaran di bidang terkait menjadi kurang efektif jika tidak segera disesuaikan.

Darmaningtyas menilai evaluasi mendalam diperlukan agar pendidikan vokasi tidak menghasilkan lulusan yang kesulitan terserap di dunia kerja.

Jurusan SMK Sektor Agro Masih Relevan hingga Kini

Berbeda dengan jurusan administratif, Darmaningtyas menilai jurusan SMK di sektor agro justru tetap memiliki relevansi tinggi.

Bidang pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kelautan disebut masih sangat dibutuhkan dalam menjaga ketahanan pangan dan perekonomian nasional.

“Sektor agro sebetulnya tetap dibutuhkan, hanya selama ini diberikan penghargaan terhadapnya masih kurang,” katanya.

Rendahnya minat terhadap jurusan agro lebih disebabkan oleh minimnya penghargaan dan persepsi prospek yang kurang menjanjikan.

Darmaningtyas menilai pengenalan sektor agro di SMK tetap tepat selama disesuaikan dengan tingkat kompetensi peserta didik.

“Sebagai pengenalan kepada pelajar SMK itu sudah oke, sesuai tingkatannya. Kemampuan mereka memang belum sampai tahap mahir, tapi sudah dikenalkan sejak SMK,” ucapnya.

Pengenalan sejak dini dinilai penting sebagai fondasi sebelum pendalaman keahlian di jenjang pendidikan tinggi.

Relevansi Jurusan Bergantung pada Tujuan Pendidikan

Lebih lanjut Darmaningtyas menjelaskan bahwa relevansi jurusan tidak dapat terlepas dari tujuan utama seseorang menempuh pendidikan.

Ia menegaskan seluruh jurusan di perguruan tinggi akan selalu relevan jika pendidikan dipahami sebagai proses pengembangan pola pikir.

"Kalau kuliah itu tujuannya untuk mengembangkan pola pikir maka semua jurusan di bangku kuliah akan selalu relevan sepanjang zaman," jelasnya.

Masalah muncul ketika pendidikan tinggi dipersempit hanya sebagai jalan cepat menuju pekerjaan.

Dalam kerangka pemikiran tersebut, jurusan ilmu sosial dan humaniora kerap dianggap tidak relevan karena jalur kariernya tidak selalu linier.

“Kalau tujuan kuliah hanya untuk mencari pekerjaan, tentu ada bidang-bidang yang dianggap tidak relevan, terutama ilmu sosial dan humaniora, karena tidak mudah mendapatkan lapangan kerja yang konsisten dengan bidang keilmuannya,” ujar Darmaningtyas.

Meski begitu, ia menegaskan jurusan sosial dan humaniora justru memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir kritis dan adaptif.

“Kalau tujuan kuliah pola pikir berkembang, maka jurusan-jurusan dengan napas sosial dan humaniora akan selalu relevan dengan perkembangan zaman,” katanya.

Pandangan tersebut menekankan pentingnya menata ulang orientasi pendidikan agar tidak semata-mata fokus pada penyerapan kerja jangka pendek. (*)