Kata Ekonom, Ini 10 Pekerjaan yang Berisiko Digantikan AI di 2026, Apa Saja?

BentengNews.com -- Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengungkap sejumlah pekerjaan yang berpotensi digantikan oleh AI. 

Pekerjaan tersebut mempunyai ciri-ciri berupa pekerjaan yang berulang-ulang, membutuhkan proses yang panjang, serta pekerjaan yang membutuhkan kreativitas.

“Tantangan bagi soal ekonomi soal pekerjaan yang bisa ditambah AI yang jelas karakteristiknya pekerjaan yang berulang, berulang-ulang, kemudian pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan proses yang cukup panjang jadi ada simplifikasi proses, dan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kreativitas itu juga mulai banyak digantikan AI,” jelas Bhima ketika dihubungi Kompas.com pada Rabu (14/1/2026). 

10 pekerjaan yang berpotensi menggantikan AI

Bhima menilai, pekerjaan yang paling rentan adalah pekerjaan dengan pola kerja yang berulang, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan proses yang panjang, serta pekerjaan yang menuntut kreativitas tetapi kini bisa dibantu AI.

Ia juga menyebut sektor digital sebagai salah satu yang paling cepat terdampak, terutama karena alasan efisiensi.

Berikut daftar 10 jenis pekerjaan/kategori yang rawan digantikan AI berdasarkan penjelasan Bhima:

Pembuat konten

Penulis cerita

Penulis naskah iklan

Jurnalis digital

Pemasaran digital

Riset pasar (market research)

Pekerjaan berulang/berulang-ulang

Pekerjaan dengan proses panjang yang bisa ekosistem (simplifikasi proses)

Pekerjaan berbasis kreativitas yang kini bisa dibantu AI

Pekerja keterampilan menengah (semi-keterampilan)


“Profesi lain seperti pemasaran digital dan riset pasar juga menghadapi risiko serupa.Pekerja dengan keterampilan menengah (semi-skill) termasuk yang paling rawan terdampak,” ungkap Bhima.

Langkah apa yang harus dilakukan agar tidak menggeser AI?

Bhima menilai pemerintah perlu mengambil peran aktif dalam menghadapi gangguan kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia kerja.

Ia menyarankan sejumlah langkah yang dapat dilakukan pemerintah dalam menghadapi kemajuan AI di bidang pekerjaan.

1. Ciptakan pekerjaan pekerjaan baru

Salah satu langkah penting yang bisa dilakukan pemerintah menurut Bhima adalah menciptakan lapangan kerja baru yang mampu menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang berpotensi terdampak AI.

“Yang bisa dilakukan pemerintah berarti harus mencari pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja yang memang bisa menggantikan pekerjaan yang bisa diganggu oleh AI,” ungkapnya.

Ia menyebut, salah satu sektor yang dapat menjadi fokus adalah ketahanan pangan.

Sektor tersebut menurutnya perlu lebih banyak melibatkan generasi muda, bukan hanya didominasi oleh aparatur.

“Pemerintah dapat fokus pada ketahanan pangan agar dikerjakan oleh potensi pemuda-pemuda, bukan oleh militer atau polisi, sehingga anak muda bisa masuk ke sektor pertanian dan hilirisasi perkebunan dengan nilai tambah yang lebih bagus dari sisi impor dan ekspor,” jelas Bhima.

2. Pembenahan sistem pendidikan

Selain itu, pembenahan sistem pendidikan juga harus dilakukan, mulai dari perguruan tinggi hingga sekolah vokasi, agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi AI.

“Hal itu dilakukan agar pemanfaatan AI dapat mempermudah pekerjaan atau melatih mereka, sehingga AI tidak dijadikan sebagai musuh yang menggantikan pekerjaan, namun untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja,” ungkapnya.

3. Ambil peran dalam rantai industri teknologi tinggi

Lebih lanjut, Bhima mengatakan Indonesia juga perlu mengambil peran dalam rantai industri teknologi tinggi (high-tech), bukan hanya menjadi pengguna teknologi.

“Indonesia juga harus bisa mengisi AI-nya, masuk ke sektor teknologi tinggi, misalnya jadi software engineer di belakang AI, kemudian memanfaatkan AI untuk menciptakan model-model bisnis baru dan kewirausahaan yang baru,” ujarnya.

Bhima mengungkapkan upaya-upaya tersebut memerlukan dukungan kebijakan yang kuat, mulai dari kebijakan fiskal, perbankan, hingga moneter, agar penciptaan lapangan kerja baru dapat berjalan optimal.

“Kalau saya lihat, memang ada pekerjaan yang digantikan sejak munculnya internet, tapi juga ada munculnya pekerjaan-pekerjaan baru. Harapannya surplus pekerjaan baru di Indonesia. Kalau tidak, kejadiannya bisa sama seperti startup-startup yang backbone SDM-nya banyak direbut Singapura dan India, sementara kita hanya jadi konsumen,” tutupnya.(*)