BentengNews.com--Senegal boleh saja merayakan gelar juara Piala Afrika dengan penuh euforia usai mengalahkan tuan rumah Maroko. Tapi bayang-bayang masalah besar masih menggantung di atas kepala mereka.
Kemenangan dramatis Senegal atas tuan rumah Maroko di pesta final piala Afrika menyisakan polemik serius yang berpotensi berakhir ekstrem. Timnas Senegal terancam didiskualifikasi.
Gol indah Pape Gueye di babak perpanjangan waktu memang memastikan Senegal mengangkat trofi untuk kedua dalam empat tahun terakhir. Namun, laga final piala Afrika lawan Maroko jauh dari kata mulus.
Segalanya panas berubah di detik-detik akhir waktu normal, saat Maroko mendapat hadiah kontroversial. Keputusan itu memicu reaksi keras dari kubu Senegal.
Emosi memuncak, hingga pelatih Pape Thiaw secara mengejutkan memerintahkan para pemainnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Situasi jadi kacau. Pertandingan terhenti hampir 20 menit, sebuah pemandangan yang jarang dan jujur saja cukup mengarahkan pada level final turnamen besar.
Di tengah kekacauan itu, Sadio Mane akhirnya turun tangan. Dia bujuk rekan-rekannya untuk kembali ke lapangan agar pertandingan bisa dilanjutkan.
Setelah laga berjalan lagi, Brahim Diaz maju sebagai algojo penalti Maroko. Momen krusial itu justru berakhir antiklimaks.
Tendangan lob yang dia lepaskan terlalu lemah dan mudah diamankan Edouard Mendy. Gagalnya penalti tersebut seolah menjadi titik balik. Maroko kehilangan momentum, dan Senegal menghukum mereka lewat gol penentu Gueye dalam perpanjangan waktu.
Kemenangan di atas lapangan belum tentu berarti aman di meja hijau. Melansir Express.co, dalam regulasi Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), ada pasal yang sangat jelas soal kejadian seperti ini.
Pasal 64 Disebutkan bahwa jika suatu tim menolak bermain atau meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir tanpa izin wasit, tim tersebut dapat dianggap kalah dan didiskualifikasi dari kompetisi yang sedang berlangsung.
Artinya? Secara teori, Senegal bisa saja kehilangan status juara meski mereka akhirnya kembali ke lapangan dan menyelesaikan pertandingan.
Pelatih Maroko Walid Regragui, tak menyembunyikan kekecewaannya usai laga. Dia mengecam keras kejadian di akhir waktu normal dan menyebutnya sebagai noda besar bagi sepak bola Afrika.
“Citra yang kita berikan tentang sepak bola Afrika cukup mengarahkan. Harus menghentikan pertandingan selama lebih dari 10 menit di depan seluruh dunia bukanlah tindakan yang berkelas,” ujar dia.
Regragui juga menilai jeda panjang tersebut berdampak langsung pada kegagalan penalti Brahim Diaz.
“Dia punya banyak waktu sebelum mengambil penalti yang pasti mengganggunya,” tambah dia.
Meski begitu, pelatih Maroko itu mencoba menerima kenyataan pahit yang harus ditelantarkan di depan publik sendiri.
"Tapi kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Itulah cara dia memilih untuk mengakhiri penalti. Sekarang kita harus menatap ke depan," kata Regragui.
Maroko sejatinya punya motivasi ekstra di final ini. Menjadi juara Afrika di kandang sendiri, sekaligus mengulangi kejayaan terakhir mereka pada tahun 1976. Harapan itu dibeli di satu malam yang penuh drama.
“Sepak bola terkadang kejam dan hari ini kami kalah, kami tahu di final Anda mendapatkan sedikit peluang dan Anda harus memanfaatkannya,” ujar Regragui.
"Penalti di detik-detik terakhir itu bisa saja memenangkan gelar juara bagi kami, tapi itu tidak terjadi. Kita bisa berbicara berjam-jam, tapi saya berharap tim ini akan kembali lebih kuat," papar dia.
“Sekarang kami tahu apa yang dibutuhkan untuk mencapai final, kami belum pernah mencapai final selama 22 tahun. Kami telah melewatkan kesempatan sekali seumur hidup,” ujar Regragui.
Kini, semua mata tertuju pada CAF. Apakah kejadian meninggalkan lapangan itu akan mengakibatkan sanksi berat, atau hanya dianggap sebagai pelanggaran emosi pada saat laga penuh tekanan?(*)
