Pengamat Ekonomi Ungkap Efek Harga BBM Tidak Naik Sampai Akhir 2026

BENTENGNEWS.COM - Sejak 1 April 2026 lalu, pemerintah tidak menaikkan harga BBM.

Bahkan harga BBM akan tetap sama sampai akhir tahun 2026 nanti.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia saat ini terus mengalami kenaikan.

Pengamat ekonomi mengungkapkan efek tidak naiknya harga BBM di Indonesia sampai akhir tahun nanti.

Pemerintah Indonesia memilih tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah melonjaknya harga minyak dunia akibat konflik geopolitik.

Saat ini, diketahui bahwa harga minyak mentah global sudah tembus di atas US$ 100 per barel di awal pekan ini.

Hal ini dikarenakan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) bersiap untuk memblokir kapal-kapal yang menuju dan dari Iran melalui Selat Hormuz.

Kemudian, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juni 2026 menguat US$ 7,03 atau 7,4% menjadi US$ 102,23 per barel, setelah ditutup melemah 0,75% pada Jumat (10/4/2026).

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei 2026 menguat US$ 7,31 atau 7,6% ke US$ 103,88 per barel, setelah ditutup turun 1,33% pada sesi sebelumnya.

Fahmy Radhi Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan bahwa dampak perang di Timur Tengah (Timteng) menyebabkan mahalnya harga sekaligus adanya kelangkaan BBM di Indonesia.

Bahkan, dampak ini juga dirasakan sejumlah negara khususnya yang impor minyak mentah ke Timur tengah.

Pilihan pemerintah RI untuk tidak menaikkan harga BBM menjadi salah satu kesenangan untuk masyarakat Indonesia. Namun, di sisi lain upaya ini akan berdampak besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Memang Menteri Keuangan menyatakan bahwa fiskal masih kuat gitu ya, bahkan tidak akan menaikkan sampai dengan akhir tahun," ujar Fahmy mengutip kontan.co.id, Senin (13/4/2026).

Fahmy menjelaskan bahwa upaya tersebut justru sangat riskan, apalagi sampai dengan saat ini perang masih berlangsung.

"Menurut saya ini cukup riskan gitu ya karena indikator yang digunakan itu timeframe, waktu sampai Desember, ini kan cukup lama," kata Fahmy.

Menurutnya memastikan kebutuhan stok BBM di Indonesia tetap aman. Namun, jika harga minyak mentah dunia terus melonjak, dipastikan beban APBN akan semakin membahayakan.

"Mestinya yang digunakan sebagai indikator pemerintah, Menteri Keuangan misalnya mengatakan kalau harga mencapai 150 maka BBM akan dinaikkan. Nah, itu lebih realistis gitu ya, risikonya juga lebih rendah," kata Fahmy.

Fahmy menyarankan pemerintah RI bersikap realistis untuk harga BBM saat ini. Tujuannya, agar APBN tetap aman.

"Kalau sekarang pemerintah tidak juga menaikkan BBM non-subsidi saya kira ini juga kurang tepat gitu ya karena selama ini BBM non-subsidi itu harganya sudah ditetapkan berdasarkan mekanisme pasar," kata Fahmy.

Namun, pakar energi asal UGM belum bisa memperkirakan kenaikan harga BBM ke depan. Tetapi, kenaikan harga BBM bisa dilihat melalui tiga variabel.

Salah satu variabel yang harus dipertimbangkan ialah harga minyak dunia. Jika harga minyak mentah dunia terus meningkat, maka pemerintah sepatutnya untuk meningkatkan harganya.

"Yang kedua adalah kurs rupiah terhadap dolar yang kita semakin lemah, ini mestinya juga harganya semakin mahal gitu ya. Yang ketiga adalah inflasi," ucapnya.

Maka itu, Fahmy meminta kepada pemerintah RI justru memperhatikan harga minyak mentah dunia, bukan malah memberikan jangka waktu untuk harga BBM tidak naik.

"Maka mestinya pemerintah itu menggunakan tolok ukur harga minyak dunia, misalnya kalau harga di atas 150 maka harga BBM subsidi dan non-subsidi harus dinaikkan misalnya," sebutnya.

"Bukan sampai akhir tahun karena sulit sekali sampai akhir tahun tadi untuk memperkirakan berapa harga minyak dunia yang itu nggak bisa dikontrol sama sekali oleh siapapun," lanjut Fahmy.(*)