BENTENGNEWS.COM- Sosok Astrio Feligent, jubir Gerindra yang kini jadi sorotan. Dia diketahui sebelumnya sempat berdebat dengan eks Ketua BEM UGM soal kepala BGN.
Juru bicara (Jubir) Partai Gerindra yaitu Astrio Feligent baru-baru ini melakukan debat dengan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto. Dalam program acara Bola Liar di KompasTV, keduanya membahas tentang penunjukan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru.
Di momen tersebut, Tiyo mempertanyakan sejumlah hal dalam penunjukan Nanik sebagai Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana yang terjerat kasus korupsi. Dia awalnya menyoroti pidato pertama Nanik yang dipandangnya tidak memiliki satu pun poin transformasional dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satu pernyataan Nanik, yaitu terkait kantin sekolah yang akan diberdayakan untuk MBG setelah 27 ribu lebih SPPG berdiri, menurut Tiyo hal itu sudah sangat terlambat. Selanjutnya, dia juga mengkritisi sistem pemerintahan Presiden Prabowo dalam menunjuk pejabat.
"Syarat pejabat itu kan dua, kompetensi dan moralitas. Tetapi di zamannya Pak Prabowo, kompetensinya nggak ada, moralitasnya tidak ada, yang penting loyalitasnya. Bu Nanik itu kalau kita ngomong kompetensi, kompetensinya apa?" ujar Tiyo, dilansir dari Kompas.TV
Selanjutnya, Tiyo Ardianto menyoroti rekam jejak Nanik yang awalnya seorang wartawan, kemudian menjasi tim sukses (timses) Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden (pilpres) 2019 dan terakhir menjadi Kepala BGN. Menurutnya, penunjukkan Nanik pada jabatan ketua BGN hanya berkaitan dengan loyalitas tanpa moralitas ataupun kompetensi.
Usai mendengar komentar Tiyo, jubir Gerindra, Astrio Feligent memberikan respon dan menuding eks ketua BEM UGM itu meremehkan profesi wartawan. Tiyo lantas bertanya kembali tentang hubungan wartawan dengan pengelolaan gizi anak-anak yang jadi fokus utama program MBG dan hal ini langsung dijawab oleh Astrio.
"Mohon maaf dengan segala hormat, tidak perlu untuk menjalankan program BGN itu harus menjadi seorang ahli gizi. Yang diperlukan adalah mengetahui tata kelola," kata Astrio.
Tiyo Ardianto berikutnya memberikan tanggapan dan mengatakan bahwa jawaban dari Astrio mencerminkan wajah istana sekarang, di mana kompetensi memang tidak diperlukan untuk menjadi pejabat. Astrio memberikan respon lagi dan menegaskan, bukan kompetensi tidak diperlukan, namun pejabat di BGN tidak perlu mempunyai latar belakang seorang ahli gizi dan yang paling penting ialah bisa menjalankan program dengan baik.
"Tidak perlu menjadi backgroundnya adalah seorang ahli gizi yang diperlukan adalah bagaimana menjalankan program ini agar program ini tepat sasaran, me manage supply chainnya, mengelola tata kelolanya agar program ini dapat bermanfaat," ujar Astrio.
"Iya, ini mengonfirmasi apa yang saya sampaikan bahwa kompetensi dan morality (moralitas) tidak diperlukan. Yang diperlukan adalah loyalitas," timpal Tiyo Ardianto.
Sementara itu, untuk sosok Astrio Feligent sendiri diketahui merupakan lulusan dari pendidikan BINUS Internasional. Aktif di dunia debat, Astrio merupakan bagian dalam BINUS International Pool of English Debaters (BIPEDES).
Pria satu ini ternyata sudah berhasil menorehkan sejumlah prestasi dalam kompetisi debat tingkat nasional. Pada tahun 2011, Astrio Feligent pernah mendapat kesempatan mewakili Indonesia dalam ajang One Young World 2011.
Adapun, One Young World merupakan konferensi pemuda dunia yang digelar di Zurich, Swiss, pada 1-4 September 2011 silam. Melansir dari Tribunnews.com, saat itu, Astrio berangkat bersama dua delegasi Indonesia lainnya yang merupakan pemenang debat Bahasa Inggris tingkat nasional.
Mereka yaitu ada Vincentius Dito Holanda dari Institut Teknologi Bandung dan Sheila Koesin dari Universitas Teknokrat Lampung. Saat itu, melalui media sosialnya, Astrio sempat mengungkap rasa antusiasmenya untuk tampil di forum internasional tersebut.
"Tidak sabar untuk menyuarakan Indonesia di One Young World! Mari kita buktikan bahwa anak muda mampu menggerakan dunia," tulis Astrio kala itu.
Untuk karier politiknya, Astro Feligent mulai dikenal luas bergabung bersama Partai Gerindra sebagai juru bicara, menjelang akhir tahun 2024. Selain menjadi politikus, Astrio juga disebut sebagai pengusaha dan pendiri perusahaan teknologi asal Indonesia yaitu SkyArk yang berfokus pada penyediaan wadah dan dukungan bagi musisi inie di tanah air. (*)
