BentengNews.com--Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Jumat (10/7). Berdasarkan data konversi mata uang yang ditampilkan Google Finance satu dolar AS setara dengan Rp 18.063. pada pukul 10.58 WIB.
Menurut Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan kurs belum sepenuhnya bisa dijawab oleh Bank Indonesia (BI), meski intervensi BI-rate dilakukan.
Rizal mengatakan, tekanan rupiah disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya sentimen global, arus modal keluar, kebutuhan valas korporasi, harga minyak, dan persepsi risiko fiskal.
"Jadi, jurus BI hanya efektif sebagai penahan jangka pendek jika tidak didukung kebijakan fiskal dan sektor riil yang kredibel," kata Rizal saat dihubungi Jawapos.com.
Rizal memprediksi, rupiah masih berpotensi volatil di sekitar level psikologis Rp 18.000 per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan.
"Pelemahan tidak selalu berlanjut secara linear, tetapi ruang penguatan juga belum kuat selama arus modal asing belum stabil, suku bunga global masih tinggi, dan pasar masih melihat risiko fiskal domestik. Jika sentimen membaik dan cadangan devisa cukup kuat, tekanan bisa mereda bertahap," lanjutnya.
Rizal mengusulkan peran BI saja tidak cukup untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, Pemerintah juga perlu ikut untuk menjaga disiplin fiskal, menahan belanja yang tidak produktif, memperkuat ekspor dan devisa hasil ekspor, mengurangi impor energi, dan menjaga kepastian kebijakan.
"Rupiah akan lebih kuat jika pasar semakin kuat 'trust' nya dengan melihat APBN semakin kredibel, investasi masuk, dan fundamental ekonomi terjaga," pungkasnya.(*)
