BentengNews.com--Namanya badan antariksa paling canggih di dunia, sewajarnya Badan Antariksa Nasional AS (NASA) punya sistem keamanan teknologi informasi (TI) yang mumpuni. Siapa nyana, hanya bermodalkan laptop dan panduan kecerdasan buatan (AI), seorang bocah sekolah dasar (SD) dari Boyolali berhasil membobol sistem itu.
Anak itu bernama Ibrahim Al Abrar. Ia siswa SDN 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Ibra, yang saat ini berusia 12 tahun dan duduk di kelas VI SDN 3 Genengsari, mengungkapkan, percobaan awalnya menemukan celah pada sistem keamanan siber NASA dilakukan pada April 2026 lalu.
Kala itu dia tertarik mencoba setelah temannya di komunitas pegiat ilmu IT yang merupakan siswa SMP gagal mendeteksi kerentanan di sistem NASA. Ibra kemudian membaca instruksi yang diterbitkan NASA untuk mendeteksi celah pada sistem keamanan siber mereka.
“Jadi namanya itu broken link hijacking, di mana link-nya itu mati, terus bisa saya ambil alih dan digunakan untuk phising dengan menggunakan nama NASA,” kata Ibra.
Dalam proses penemuan celah pada sistem keamanan siber NASA, Ibra hanya menggunakan laptop sederhana dan dibantu platform kecerdasan buatan atau AI bernama Deepseek serta video tutorial Youtube.
Sejak kelas IV, Ibrahim sudah tertarik dengan ilmu pemrograman komputer. Dengan ketekunan mempelajari ilmu tersebut secara otodidak, Ibrahim atau biasa disapa Ibra, diganjar penghargaan oleh NASA setelah menemukan celah di sistem keamanan siber badan antariksa Amerika Serikat tersebut.
Ibra mengakui, dalam proses awalnya mendalami ilmu pemrograman komputer, dia sempat dibantu ayahnya, Aminudin. Aminudin merupakan guru teknik komputer dan jaringan di SMKN Kemusu.
Menurut Ibra, ayahnya sepenuhnya mendukung ketertarikannya pada dunia komputer dan siber.
“Cita-cita saya mau jadi cyber security profesional,” ujar Ibra dengan nada percaya diri.
NASA beruntung karena Ibra tak mengeksplotasi kerentanan dalam sistem komputer mereka tersebut. Alih-alih, Ia melaporkan kerentanan itu pada sistem keamanan NASA.
Tiga kali laporan itu dilayangkan, satu diantaranya ditolak. Laporan lainnya disebut NASA sebagai duplikat karena sudah pernah dilaporkan pihak lain. Sedangkan laporan terakhir berstatus pending alias ditunda.
Barulah pada percobaan keempat NASA menerima laporan Ibra dan meresponsnya dengan mengirimkan surat apresiasi. “Untuk mencari celahnya itu butuh enam hari. Link-nya (yang diperiksa) itu sampai 200-an,” kata Ibra.
“Pas nerima surat dari NASA, saya kaget, nggak percaya,” ungkap Ibra saat diwawancara sesaat sebelum menghadiri agenda pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di kantornya, Kota Semarang, Rabu (29/7/2026).
Surat penghargaan NASA tersebut diterima Ibra melalui surel pada awal Juli 2026 lalu. “Ibrahim Al Abrar yang terhormat, atas nama NASA dan NASA Vulnerability Disclosure Policy (VDP), kami ingin mengakui upaya Anda sebagai peneliti keamanan independen, baik dalam mengidentifikasi kerentanan yang Anda kirimkan dan untuk mengikuti kebijakan serta pedoman VDP NASA dalam melaporkan ini secara bertanggung jawab kepada kami,” tulis NASA dalam suratnya tertanggal 9 Juli 2026.
NASA menilai, kemampuan Ibra dalam mendeteksi dan melaporkan kerentanan pada sistem keamanan mereka merupakan keterampilan berharga dalam industri keamanan informasi. “Pelaporan Anda telah memfasilitasi kesadaran NASA akan kerentanan yang tidak diketahui dan membantu kami melindungi integritas dan ketersediaan informasi NASA. Mohon terima surat ini sebagai tanda penghargaan kami atas upaya Anda dalam mendeteksi kerentanan ini,” kata NASA kepada Ibra.
Kepala SDN 3 Genengsari, Pinda Kurniati, mengaku sangat bangga dengan Ibra yang diakui keahliannya oleh NASA. Menurutnya, apa yang dilakukan Ibra sudah mengharumkan nama sekolahnya. “SDN 3 Genengsari letaknya kan cukup di pelosok. Jadi ada anak yang sangat berprestasi ini kami sangat bangga sekali,” ucapnya saat mendampingi Ibra dalam agenda pertemuan dengan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi.
Pinda mengungkapkan, sarana dan fasilitas di sekolahnya sebenarnya sangat terbatas. Namun hal itu ternyata tak mengecilkan semangat Ibra untuk mendalami ilmu komputer dan siber. Menurutnya, Ibra juga perlu diapresiasi dalam hal tersebut.
Dia mengatakan, setelah kabar Ibra memperoleh penghargaan NASA viral di media sosial, sekolahnya banyak didatangi awak media. Mereka menanyakan soal kebenaran informasi tersebut. Pihak sekolah pun mengonfirmasi. “Artinya memang mengharumkan nama sekolah,” ujar Pinda.
Menurut Pinda, Ibra memang cukup menonjol di bidang akademik. Mata pelajaran favorit Ibra adalah matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. “Saya berharap nanti adik-adik kelasnya atau teman-temannya juga bisa seperti Ibra,” ucapnya.
Saat bertemu dengan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Ibra kembali menjelaskan soal bagaimana menemukan celah atau kerentanan pada sistem keamanan siber NASA. Luthfi juga bertanya mengapa dan bagaimana Ibra dapat tertarik dengan dunia komputer serta siber.
“Ini Pakde beri hadiah laptop,” ujar Luthfi menjelang akhir pembicaraannya dengan Ibra. Pada sesi foto bersama, Luthfi juga sempat bertanya kepada Ibra hendak menjadi apa saat kelak dewasa. “Saya mau jadi cyber security profesional,” kata Ibra.(*)
