BENTENGNEWS.COM--Komisi independen Liga Primer menyatakan Manchester City bersalah atas manipulasi laporan keuangan secara masif dalam keputusan resmi terbaru. Berdasarkan dokumen setebal 40 halaman yang dirilis ke publik, sang juara bertahan terbukti melakukan serangkaian pelanggaran aturan finansial serius selama sembilan musim beruntun sejak periode 2009-2010.
Langkah manipulasi ini diambil setelah pemilik klub, Abu Dhabi United Group, menyadari bahwa pengeluaran besar-besaran untuk merekrut pemain bintang akan memicu kerugian finansial yang memecahkan rekor. Guna menghindari sanksi regulasi domestik maupun Eropa, jajaran manajemen klub merancang berbagai skema ilegal untuk menyembunyikan defisit anggaran mereka.
Skema Rahasia Pemilik Mengakali Aturan Finansial
Manchester City menyamarkan suntikan dana dari pemilik klub melalui metode rahasia yang dikenal sebagai disguised funding scheme. Dalam kesepakatan sponsor yang nilainya digelembungkan jauh di atas nilai pasar wajar tersebut, pembayaran dibagi menjadi dua bagian, yaitu biaya dasar dan dana tambahan khusus. Pihak sponsor hanya membayar biaya dasar yang bernilai kecil, sementara pemilik klub secara diam-diam melunasi sisa tagihan fantastis itu.
Manipulasi ini secara sistematis menyembunyikan dana sponsor palsu senilai lebih dari £830 juta dari total pendapatan komersial yang dilaporkan sebesar £949,94 juta. Komisi independen menegaskan tindakan ini sengaja dilakukan agar klub tampak mematuhi aturan financial fair play. Panel penyelidik pun dengan tegas menolak pembelaan manajemen klub dan menyebut argumen mereka “direkayasa jauh setelah kejadian sebagai upaya untuk mengaburkan dan menyembunyikan realitas skema pendanaan terselubung.”
Praktik manipulatif ini juga digunakan secara instan ketika klub menghadapi ancaman sanksi darurat. Pada Mei 2013, sesaat sebelum tahun finansial berakhir, manajemen menyadari adanya kekurangan dana sebesar £9,9 juta untuk mematuhi regulasi UEFA. Tanpa menghubungi pihak sponsor asli, mereka langsung mengubah dokumen kontrak sepihak demi menutup celah defisit tersebut dalam hitungan hari.
Proyek Longbow dan Rekayasa Hak Citra Pemain
Klub juga meluncurkan program internal bernama Project Longbow pada tahun 2012 yang sebagian programnya terbukti ilegal, salah satunya adalah skema Fordham Arrangement. Skema ini memanfaatkan pihak ketiga sebagai perantara palsu untuk membeli hak citra (image rights) para pemain dengan harga yang digelembungkan secara artifisial menggunakan dana pemilik klub sendiri. Panel penyelidik independen secara terbuka menyebut bahwa kesepakatan Fordham tersebut “hanya sedikit lebih dari sekadar kedok.”
Melalui rekayasa kontrak hak citra ini, uang pemilik disalurkan kembali ke dalam klub sehingga Manchester City bisa berpura-pura bahwa dana tersebut merupakan pendapatan operasional murni. Dokumen resmi menunjukkan bahwa sebesar £24,5 juta telah salah dicatat sebagai pendapatan operasional, sementara pengeluaran sebesar £49,414 juta secara sengaja dihapus dari laporan beban operasional resmi klub.
Tidak hanya itu, klub juga menyembunyikan rincian kontrak mahal milik manajer dan pemain agar tidak membebani neraca keuangan resmi mereka. Pembayaran gaji dilakukan secara rahasia melalui pihak ketiga dengan kedok kontrak konsultasi yang dibiayai langsung oleh pemilik. Melalui metode ini, pengeluaran sebesar £8,866 juta, £7,4 juta, dan £500 ribu berhasil dihilangkan dari buku kas klub.
Kesaksian Palsu dan Penolakan Kerja Sama Penyelidikan
Upaya menutupi kejahatan keuangan ini diperparah oleh sikap tidak kooperatif dari para petinggi klub sepanjang proses investigasi berlangsung. Komisi independen mengungkapkan bahwa Manchester City secara aktif melakukan upaya terencana untuk menghentikan dan menggagalkan penyelidikan yang dilakukan oleh otoritas Liga Primer.
Fakta mengejutkan lainnya menyebutkan bahwa sejumlah saksi penting yang dihadirkan oleh pihak klub memberikan kesaksian bohong di bawah sumpah saat persidangan. Dokumen keputusan menyatakan bahwa saksi-saksi tersebut menyerahkan “bukti yang mereka ketahui tidak benar sehingga mereka telah bertindak tidak jujur.” Pelanggaran etika berat ini berpotensi memicu sanksi lanjutan yang lebih berat dari regulator sepak bola independen yang baru.(*)
