BENTENGNEWS.COM--Ternyata ada kebiasaan sejak kecil yang berdampak saat dewasa. Berikut akan diperkenalkan kebiasaan orang kurang mandiri yang sering dianggap sepele. Berikut ini daftaranya.
1. Tetapkan batasan
Anak yang sejak kecil jarang diberi ruang untuk bersuara, batasan pribadi mereka bisa terasa membingungkan. Hal ini sering menjadi kebiasaan orang kurang mandiri, seperti terlalu cepat berbagi cerita, mudah berkata iya, lalu merasa tidak nyaman.
Sebagian anak tumbuh dengan orang tua yang sering melanggar ruang pribadi atau menuntut keterlibatan emosional secara berlebihan. Akibatnya, konsep batas diri menjadi kabur dan berkembang menjadi kebiasaan orang yang kurang mandiri hingga dewasa.
Saat dewasa, kondisi ini tampak dari kebiasaan yang dijelaskan secara berlebihan dan meminta maaf atas kebutuhan sederhana. Dengan melatih kalimat singkat, tegas, dan sopan, kebiasaan orang yang kurang mandiri ini perlahan dapat berubah menjadi sikap yang lebih sehat dan seimbang.
2. Terlalu berlebihan dalam memenuhi tugas sehari-hari
Kebiasaan ini sering terlihat seperti sikap rajin dan bertanggung jawab, padahal sebenarnya muncul dari rasa takut dikritik atau disalahkan. Sejak kecil, kondisi ini bisa membentuk kebiasaan orang kurang mandiri karena anak merasa harus selalu siap agar aman.
Dalam keseharian, tugas sederhana pun terasa berat karena dipikirkan terlalu lama. Menelepon saja harus membuat catatan, atau membeli barang kecil perlu penelitian berjam-jam, sehingga kebiasaan seperti ini membuat energi cepat habis.
Sebagai Bunda, penting menyadari bahwa tidak semua hal harus sempurna. Dengan membiasakan anak merasa cukup siap, kebiasaan ini perlahan bisa berubah menjadi sikap lebih tenang dan percaya diri.
3. Minta izin terlebih dahulu
Bunda mungkin sering melihat anak atau orang dewasa yang terbiasa meminta izin sebelum bertindak, meski sebenarnya tidak perlu. Pola ini menjadi salah satu kebiasaan orang kurang mandiri karena keputusan pribadi selalu menunggu izin dari orang lain.
Sekilas kebiasaan ini tampak sopan, seperti bertanya sebelum melakukan sesuatu atau meminta kepastian atas hal yang sudah dipahami. Namun, jika terlalu sering meminta izin, seseorang bisa terbiasa bergantung pada orang lain.
Pada keluarga yang membatasi kemandirian sejak kecil, meminta izin sering dianggap sebagai tanda aman. Kebiasaan ini bisa terbawa hingga dewasa, sehingga perlu dilatih secara perlahan dengan membiasakan memberi informasi, tidak selalu meminta izin.
4. Merasa nyaman saat memiliki kebebasan
Ketika punya waktu luang, kebebasan seharusnya terasa menyenangkan, namun bagi sebagian orang justru membuat gelisah. Kondisi ini sering dialami oleh mereka yang sejak kecil terbiasa diarahkan dan jarang menentukan pilihan sendiri.
Rasa tidak tenang bisa muncul dalam bentuk dada terasa sesak, mudah kesal, atau keinginan terus melakukan sesuatu agar tidak diam. Tanpa disadari, inilah salah satu kebiasaan orang menjadi kurang mandiri yang terbentuk karena sejak kecil selalu mengikuti aturan dan jadwal orang lain.
Agar lebih nyaman, mereka bisa mulai mengatur waktu bebas dengan cara sederhana, misalnya menentukan satu kegiatan lalu membiarkan sisanya fleksibel. Dengan latihan seperti ini, kebiasaan orang menjadi kurang mandiri perlahan dapat berubah karena tubuh belajar bahwa waktu bebas tidak perlu selalu ditakuti.
5. Sering menolong orang lain
Sejak kecil, ada anak yang terbiasa berada dalam mode penolong, yaitu selalu sigap membantu sebelum diminta. Lama-kelamaan, sikap ini bisa membentuk kebiasaan selalu mendahulukan orang lain dan melupakan kebutuhan diri sendiri.
Menolong memang hal baik dan patut diapresiasi, namun jika dilakukan terus-menerus bisa membuat hati dan tenaga terkuras. Pola ini sering menjadi bagian dari kebiasaan orang kurang mandiri karena rasa berharga muncul hanya saat merasa dibutuhkan.
Mereka dapat mulai menyadari momen ketika ingin langsung membantu atau menyelesaikan masalah orang lain. Dengan memberi jeda sejenak dan menetapkan batas yang wajar, kebiasaan ini dapat perlahan berubah tanpa menghilangkan rasa peduli pada orang lain.
6. Terlalu meremehkan keputusan yang diambil
Kebiasaan orang yang kurang mandiri selanjutnya adalah terlalu meremehkan keputusan yang diambil. Kebiasaan ini sering dialami oleh orang yang sejak kecil jarang diberi ruang untuk memilih sendiri. Akibatnya, keputusan kecil pun terasa berat dan menimbulkan keraguan.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tampak dari kebiasaan membaca ulang pesan berkali-kali hingga mengubah menu makan saat proses memasak sudah dimulai. Situasi sederhana ini sering berakhir pada rasa jengkel pada diri sendiri.
Di balik sikap tersebut, biasanya ada pengalaman masa kecil ketika pilihan dianggap bisa berakhir salah dan mendapat kritik. Untuk perlahan mengurangi kebiasaan orang yang kurang mandiri ini, mereka dapat melatih diri membuat aturan kecil saat memilih, membatasi waktu mengambil keputusan, serta mengingat bahwa banyak keputusan yang ternyata bisa berjalan baik-baik saja.
7. Menghindari risiko kecil
Orang yang sejak kecil kurang diberi ruang mandiri cenderung menghindari risiko kecil saat dewasa. Pola ini menjadi bagian dari kebiasaan orang kurang mandiri, seperti memilih rutinitas yang sama agar merasa aman setiap harinya.
Ketakutan mencoba hal baru sering dihapus dari pengalaman masa kecil yang penuh aturan dan hukuman. Akibatnya, kebiasaan ini muncul dalam bentuk diam saat rapat, menunda dimulainya sesuatu, atau takut terlihat salah.
Sebagai langkah awal, orang dengan kebiasaan ini bisa melatih diri mengambil risiko kecil dengan dampak minimal. Perlahan-lahan, kebiasaan ini dapat diubah dengan menghargai usaha, bukan hanya hasil, agar rasa percaya diri tumbuh kembali.(*)
