JAKARTA ,BENTNGNEWS.COM-- Sorotan politik Amerika tiba-tiba mengarah kepada Zohran Mamdani. Tiga kandidat yang didukung Wali Kota New York itu berhasil menumbangkan tokoh-tokoh mapan Partai Demokrat dalam pemilihan pendahuluan, membuat perhatian media nasional beralih kepada politikus berusia 34 tahun tersebut.
Di tengah derasnya pemberitaan itu, Presiden Donald Trump justru melontarkan keluhan. "Saya menang 16-0 tadi malam, tetapi media tidak mengatakan sepatah kata pun," tulis Trump di platform Truth Social. Menurutnya, kemenangan para kandidat yang ia dukung nyaris tidak mendapat perhatian, sementara keberhasilan Mamdani justru menjadi headline di berbagai media.
Namun, apa yang membuat Mamdani menjadi pusat perhatian?
Jawabannya bukan sekadar karena ia memenangkan pemilihan wali kota New York pada 2025.
Dalam pemilihan pendahuluan terbaru, Brad Lander, mantan Pengawas Keuangan Kota New York, berhasil mengalahkan anggota DPR dua periode Dan Goldman.
Di distrik lain, anggota legislatif negara bagian Claire Valdez menumbangkan Presiden Distrik Brooklyn Antonio Reynoso. Sementara aktivis Darializa Avila Chevalier secara tipis mengalahkan anggota DPR lima periode Adriano Espaillat, Ketua Kaukus Hispanik Kongres.
Namun itu baru permulaannya. Ketiga distrik tersebut merupakan basis kuat Partai Demokrat. Jika mereka memenangkan pemilu umum pada November mendatang, ketiganya diperkirakan akan melenggang ke Kongres Amerika Serikat pada Januari, memperkuat pengaruh politik Mamdani di tingkat federal.
Artinya, Mamdani tidak lagi sekadar memimpin New York. Ia mulai membangun jaringan kekuasaan politik yang menjangkau Washington.
Di sinilah Trump mulai bereaksi keras. Beberapa jam sebelum mengeluhkan minimnya perhatian media, Trump lebih dulu menulis pesan singkat bernada tajam, sebagaimana diberitakan Huffington Post pada Rabu (24/6/2026).
"Amerika yang Indah TIDAK AKAN PERNAH menjadi Negara Komunis!!!"
Tak lama kemudian, ia kembali menyerang Mamdani.
"Wali Kota Mamdani berhasil meloloskan tiga orang komunis yang solid dan mendapat tepuk tangan meriah dari Media Berita Palsu," tulis Trump.
Namun, yang paling mengusik Trump tampaknya bukan kemenangan tiga kandidat tersebut. Ia merasa sorotan media telah berpindah.
Trump mengklaim para kandidat yang ia dukung di New York, Utah, Maryland, dan South Carolina juga memenangkan pemilihan pendahuluan. Bahkan ia menyebut rekor kemenangannya mencapai 16-0.
Meski demikian, menurut Trump, kemenangan itu nyaris tidak diberitakan. Sebaliknya, perhatian media terus mengarah kepada Mamdani. Fenomena itu menunjukkan perubahan yang lebih besar di politik Amerika.
Dalam waktu hampir bersamaan, kandidat dari kubu sosialis demokrat juga memenangkan pemilihan pendahuluan di Washington DC dan berhasil melaju ke putaran berikutnya di Los Angeles. Gelombang kemenangan itu memberi sinyal bahwa sayap progresif Partai Demokrat mulai memperoleh momentum di kota-kota besar Amerika Serikat.
Pertanyaannya, apakah ini hanya kemenangan lokal? Atau justru awal dari pergeseran arah Partai Demokrat menjelang pemilu nasional berikutnya?
Mamdani sendiri memilih tidak membalas kritik Trump secara langsung. Ia mengunggah cuplikan bintang New York Knicks, Jalen Brunson, yang mengatakan dirinya tidak peduli kepada "orang-orang yang terus berbicara negatif."
Unggahan itu dipandang banyak pengamat sebagai jawaban halus kepada para pengkritiknya.
Sementara Trump masih mempertanyakan mengapa kemenangan para kandidat dukungannya luput dari pemberitaan, Mamdani justru terus menikmati sorotan yang semakin besar.
Jika tren ini berlanjut hingga pemilu berikutnya, maka yang berubah bukan hanya siapa yang menjadi pusat perhatian media. Yang sedang diperebutkan adalah arah ideologi Partai Demokrat, dan mungkin juga masa depan politik Amerika Serikat.
Mengguncang Demokrat Amerika
Kemenangan tiga kandidat yang didukung Zohran Mamdani tidak sekadar menambah daftar politisi progresif yang lolos dari pemilihan pendahuluan. Hasil tersebut mengguncang Partai Demokrat karena mereka berhasil mengalahkan sejumlah tokoh yang selama ini mewakili kubu mapan atau moderat di partai tersebut.
Di antara hasil paling menyita perhatian adalah kemenangan Brad Lander atas anggota DPR dua periode Dan Goldman, yang dikenal sebagai salah satu figur berpengaruh di Demokrat New York. Di distrik lain, anggota legislatif negara bagian Claire Valdez menyingkirkan Presiden Distrik Brooklyn Antonio Reynoso, sementara aktivis Darializa Avila Chevalier mengalahkan anggota DPR lima periode Adriano Espaillat, Ketua Kaukus Hispanik Kongres. Ketiganya bukan pendatang baru, melainkan tokoh yang telah lama menjadi bagian dari struktur kekuasaan Demokrat.
Yang membuat hasil ini tidak biasa adalah lokasi kemenangan tersebut. Ketiga kontestasi berlangsung di distrik yang selama bertahun-tahun menjadi basis kuat Partai Demokrat. Dalam kondisi seperti itu, petahana atau kandidat yang didukung elite partai biasanya memiliki peluang jauh lebih besar untuk menang. Namun kali ini, arus dukungan justru mengalir kepada kandidat-kandidat yang membawa agenda perubahan dan didukung langsung oleh Mamdani.
Kemenangan itu memperlihatkan bahwa pengaruh Mamdani tidak lagi terbatas pada Balai Kota New York. Ia mulai mampu mengonsolidasikan kekuatan politik melalui jaringan kandidat yang memiliki peluang besar melenggang ke Kongres Amerika Serikat. Jika mereka memenangkan pemilu umum, Mamdani akan memiliki sekutu-sekutu politik di tingkat federal, sesuatu yang dapat memperbesar pengaruhnya dalam menentukan arah kebijakan Partai Demokrat.
Bagi kubu moderat Demokrat, hasil ini menjadi peringatan bahwa keseimbangan kekuatan di dalam partai mulai bergeser. Sayap progresif yang selama ini identik dengan isu-isu seperti keadilan sosial, keterjangkauan biaya hidup, dan reformasi ekonomi kini semakin mampu menantang dominasi elite lama. Pertanyaannya, apakah kemenangan ini hanya menjadi kejutan politik di New York, atau justru awal dari perubahan yang lebih besar di tubuh Partai Demokrat menjelang pemilu nasional berikutnya?
Progresif Kian Meluas
Kemenangan tiga sekutu Zohran Mamdani di New York tidak berdiri sendiri. Dalam waktu hampir bersamaan, kandidat dari kubu sosialis demokrat juga memenangkan pemilihan pendahuluan di Washington, DC, dan berhasil melaju ke putaran berikutnya di Los Angeles. Rangkaian hasil itu memunculkan pertanyaan baru: apakah Amerika sedang menyaksikan kebangkitan gelombang progresif yang lebih luas?
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena selama bertahun-tahun sayap progresif Partai Demokrat lebih sering dipandang sebagai kekuatan pelengkap dibanding penentu arah partai. Kini, kandidat-kandidat yang mengusung isu keterjangkauan biaya hidup, perumahan, layanan kesehatan, hingga ketimpangan ekonomi mulai memperoleh dukungan lebih besar, terutama dari pemilih muda dan kawasan perkotaan.
Bagi Partai Demokrat, perubahan ini dapat memunculkan dilema baru. Di satu sisi, menguatnya kubu progresif berpotensi meningkatkan partisipasi pemilih muda yang selama ini menjadi salah satu basis penting partai. Namun di sisi lain, pergeseran yang terlalu jauh ke kiri juga dikhawatirkan membuat Demokrat kehilangan pemilih moderat yang selama ini menjadi penentu kemenangan dalam pemilu nasional.
Kondisi itu menjelaskan mengapa kemenangan para sekutu Mamdani mendapat perhatian jauh melampaui New York. Yang dipertaruhkan bukan hanya tiga kursi di Kongres, melainkan juga arah ideologi Partai Demokrat dalam menghadapi persaingan politik beberapa tahun ke depan. Jika semakin banyak kandidat progresif memenangkan pemilihan pendahuluan di berbagai negara bagian, keseimbangan kekuatan di dalam partai bisa berubah secara signifikan.
Bagi Partai Republik, termasuk Donald Trump, perkembangan tersebut juga membuka ruang untuk kembali mengangkat isu sosialisme sebagai senjata politik menjelang pemilu berikutnya. Sementara bagi kubu progresif, kemenangan di New York menjadi bukti bahwa agenda perubahan tidak lagi hanya menjadi wacana, tetapi mulai diterjemahkan menjadi kemenangan elektoral.
Apakah gelombang ini akan berhenti di New York, atau justru bergerak menuju Washington dan mengubah wajah politik Amerika Serikat? Jawabannya kemungkinan baru akan terlihat dalam serangkaian pemilihan pendahuluan berikutnya. Namun satu hal sudah mulai tampak: **pertarungan yang sesungguhnya kini bukan hanya antara Partai Demokrat dan Partai Republik, melainkan juga perebutan arah masa depan Partai Demokrat itu sendiri.**
