BentengNews.com -- Harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamina kembali menjadi sorotan publik setelah perusahaan memastikan belum melakukan perubahan tarif hingga Sabtu (18/7/2026).
Sebelumnya, mulai 1 Juli 2026, Pertamina telah menurunkan harga tiga produk BBM nonsubsidi, yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.
Namun, penyesuaian tersebut tidak berlaku untuk Pertamax, sehingga memunculkan berbagai pertanyaan dari masyarakat.
Di wilayah Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax Turbo turun dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter.
Sementara Dexlite berkurang dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter, sedangkan Pertamina Dex kini dipasarkan seharga Rp21.150 per liter dari sebelumnya Rp24.800.
Penyesuaian harga untuk ketiga BBM nonsubsidi tersebut juga diterapkan di seluruh jaringan SPBU Pertamina di berbagai daerah di Indonesia.
Berbeda dengan tiga produk tersebut, Pertamax yang mengalami kenaikan cukup tinggi pada 10 Juni 2026 hingga kini belum mengalami penurunan harga.
Sebagai contoh, di Provinsi Kalimantan Timur, harga Pertamax pada 10 Juni lalu melonjak dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter atau naik Rp4.050 per liter.
Sampai saat ini, tarif Pertamax masih tetap berlaku di seluruh wilayah Indonesia tanpa perubahan.
Harga BBM nonsubsidi sendiri berbeda-beda di setiap provinsi karena disesuaikan dengan sejumlah komponen penentu harga.
Adapun untuk BBM bersubsidi, yakni Pertalite dan Biosolar, tarifnya masih seragam secara nasional. Harga Pertalite dipatok Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar tetap Rp6.800 per liter.
Penjelasan Mengapa Harga Pertamax Belum Turun
Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai keputusan mempertahankan harga Pertamax di kisaran Rp16.250 per liter sebenarnya sudah dapat diprediksi berdasarkan model perhitungan yang ia kembangkan.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi price smoothing atau penghalusan harga yang selama ini diterapkan Pertamina.
"Ketika Pertamax dinaikkan menjadi Rp16.250 pada Juni lalu, harga tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang disiratkan formula karena harga produk BBM dunia saat itu sedang sangat tinggi. Pertamina menyerap kerugian ketika itu, sehingga saat harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya," kata Yayan kepada wartawan, Jumat (3/7/2026).
Yayan menjelaskan, penentuan harga BBM nonsubsidi tidak hanya dipengaruhi oleh naik turunnya harga minyak mentah dunia.
Berdasarkan model yang mengacu pada formula penetapan harga pemerintah dan pola kebijakan Pertamina, harga Pertamax diperkirakan memang masih akan dipertahankan.
Untuk Agustus mendatang, ia menyebut formula dasar mengarah pada kisaran Rp13.700 per liter.
Namun, dengan pendekatan price smoothing, harga diproyeksikan tetap berada di sekitar Rp16.000 per liter atau tidak jauh berbeda dari tarif saat ini.
Menurut Yayan, apabila Pertamax langsung diturunkan mengikuti formula, dampaknya dapat membantu menekan inflasi sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan.
Sebaliknya, jika harga tetap dipertahankan, manfaat penurunan harga minyak dunia lebih banyak digunakan untuk memulihkan margin Pertamina, sementara beban subsidi Pertalite dan Solar masih menjadi komponen terbesar dalam anggaran pemerintah.
"Jika Pertamax dipangkas ke formula, estimasi pass-through kami menyiratkan sekitar−0,4 poin persentase dari inflasi selama tiga bulan (pelonggaran tahunan dari 3,34 persen menuju sekitar 2,9 persen); jika ditahan, dampaknya nihil dan seluruh penurunan minyak mengalir ke anggaran dan ke pemulihan margin Pertamina," kata dia.
Pandangan serupa disampaikan pakar kebijakan publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono.
Ia mengatakan, keputusan pemerintah mempertahankan harga Pertamax tidak hanya mempertimbangkan harga minyak dunia pada satu waktu tertentu.
Menurutnya, penentuan harga juga memperhitungkan rata-rata harga minyak selama periode tertentu, nilai tukar rupiah, biaya distribusi, biaya pengelolaan, komponen pajak, hingga cadangan untuk mengantisipasi gejolak pasar.
"Karena itu, penurunan harga minyak dunia tidak selalu harus langsung diikuti dengan penurunan harga jual di dalam negeri," kata Kristian.
Kristian menegaskan bahwa sebagai BBM nonsubsidi, Pertamax memang tidak wajib mengalami perubahan harga setiap kali harga minyak global melemah.
Penilaian utamanya adalah apakah harga jual yang berlaku masih mencerminkan biaya ekonomi sesuai formula yang telah ditetapkan.
"Apabila hasil perhitungan menunjukkan harga yang berlaku masih mencerminkan biaya penyediaannya, maka mempertahankan harga bukan merupakan pelanggaran terhadap prinsip pasar.
Namun apabila biaya penyediaan sudah turun secara nyata tetapi harga tetap dipertahankan, pemerintah dan badan usaha perlu memberikan penjelasan yang transparan agar tidak menimbulkan persepsi bahwa konsumen menanggung beban yang tidak semestinya," katanya.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak mencampurkan mekanisme penetapan harga BBM nonsubsidi dengan kepentingan menutup tekanan defisit anggaran negara.
Menurut Kristian, apabila pertimbangan fiskal menjadi alasan utama mempertahankan harga, maka pemerintah perlu menyampaikan dasar kebijakan tersebut secara terbuka agar tidak memunculkan ketidakpastian dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap tata kelola sektor energi.
"Keberhasilan kebijakan energi tidak hanya diukur dari murah atau mahalnya harga bahan bakar, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen, keberlanjutan penyediaan energi, kesehatan keuangan negara, serta kepercayaan publik terhadap proses pengambilan kebijakan," tutur Kristian.
Berikut daftar harga BBM Pertamina terbaru yang berlaku di seluruh Indonesia per 1 Juli 2026, berdasarkan data resmi PT Pertamina Patra Niaga.
Provinsi Aceh
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
FTZ Sabang
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp15.250
Dexlite: Rp18.450
Sumatera Utara
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Sumatera Barat
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp22.100
Dexlite: Rp20.550
Riau
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp22.100
Dexlite: Rp20.550
Kepulauan Riau
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp22.100
Dexlite: Rp20.550
FTZ Batam
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp15.500
Pertamax Turbo: Rp 18.350
Pertamina Dex: Rp20.100
Dexlite: Rp18.700
Jambi
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Bengkulu
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Sumatera Selatan:
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Bangka Belitung
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Lampung
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
DKI Jakarta
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Green: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp19.300
Pertamina Dex: Rp21.150
Dexlite: Rp19.700
Banten
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Green: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp19.300
Pertamina Dex: Rp21.150
Dexlite: Rp19.700
Jawa Barat
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Green: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp19.300
Pertamina Dex: Rp21.150
Dexlite: Rp19.700
Jawa Tengah
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Green: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp19.300
Pertamina Dex: Rp21.150
Dexlite: Rp19.700
DI Yogyakarta
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Green: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp19.300
Pertamina Dex: Rp21.150
Dexlite: Rp19.700
Jawa Timur
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Green: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp19.300
Pertamina Dex: Rp21.150
Dexlite: Rp19.700
Bali
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Turbo: Rp19.300
Pertamina Dex: Rp21.150
Dexlite: Rp19.700
Nusa Tenggara Barat
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Turbo: Rp19.300
Pertamina Dex: Rp21.150
Dexlite: Rp19.700
Nusa Tenggara Timur
Pertalite: Rp10.000
Biosolar (subsidi): Rp6.800
Biosolar (nonsubsidi): Rp22.900
Pertamax: Rp16.250
Pertamax Turbo: Rp19.300
Pertamina Dex: Rp21.150
Dexlite: Rp19.700
Kalimantan Barat
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Kalimantan Tengah
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Kalimantan Selatan
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp22.100
Dexlite: Rp20.550
Kalimantan Timur
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Kalimantan Utara
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp17.000
Pertamax Turbo: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp22.100
Dexlite: Rp20.550
Sulawesi Utara
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Gorontalo
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Sulawesi Tengah
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Sulawesi Tenggara
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Sulawesi Selatan
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Sulawesi Barat
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Maluku
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Dexlite: Rp20.150
Maluku Utara
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Dexlite: Rp20.150
Papua
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.750
Dexlite: Rp20.150
Papua Barat
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150
Papua Selatan
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Dexlite: Rp20.150
Papua Pegunungan
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Dexlite: Rp20.150
Papua Tengah
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp12.600
Dexlite: Rp20.150
Papua Barat Daya
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Pertamax: Rp16.650
Pertamina Dex: Rp21.650
Dexlite: Rp20.150.(*)
