Dukung Industri Kreatif Sulsel, Ketua DPW PBB Booking Satu Studio Nobar Film Toko Perlengkapan Mayat

MAKASSAR,BentengNews.Com--Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Bulan Bintang (PBB) Sulsel, Mochammad Yaza Azhari Britain, akan membooking satu studio jaringan Cinema XXI di Makassar Town Square (M’Tos).


Yaza akan mengajak pengurus DPW dan DPC dan sejumlah kader untuk nonton bareng (nobar) film berjudul Toko Perlengkapan Mayat yang merupakan hasil karya  sineas muda Makassar. Setidaknya, Yaza akan menyediakan 115 tiket gratis sesuai seat yang tersedia dalam satu studio.

Rencana tersebut dikemukakan Yaza saat berbincang santai dengan para kru film ini di Om Ben Coffee by Cinoeku, Mall Panakkukang, Makassar, Selasa 11 Agustus 2026. Para kru ini hadir di Om Ben Coffee usai nobar di CGV Panakkukang Square.

Tampak hadir sutradara Surya Darmawan, pemeran utama pria Armadha Sijaya, pemeran utama wanita Dwiaffor, dan sejumlah kru dan artis pendukung.

Sedangkan dari PBB, bersama Yaza, hadir Misbahuddin Hadjdjini yang juga Bendahara DPW PBB Sulsel.

Film bergenre thriller ini, betul-betul murni hasil karya anak-anak Makassar. Mulai dari penulisan skenario, sutradara, artis dan aktor serta proses editing dilakukan para talenta lokal Makassar.

Dan yang paling tidak lazim, pendistribusian film ini dilakukan sendiri oleh sang sutradara  Surya Darmawan melalui rumah produksi miliknya YC Entertainment. Semua diurus sendiri sehingga bisa tayang di Bioskop XXI dan CGV di seluruh Indonesia per 6 Agustus 2026 lalu.

Padahal selama ini, film-film yang bisa menembus jaringan bioskop nasional seperti Cinema XXI, CGV Cinemas, dan Cinepolis karena dibawa oleh perusahaan distributor film nasional. Itupun biasanya harus antre bertahun-tahun untuk mendapatkan slot waktu tayang.

Selama ini, sejumlah film karya anak Makassar yang mampu menembus jaringan bioskop nasional karena menggunakan jasa perusahaan distribusi film yang memang menguasai jaringan distribusi industri film di Indonesia.

Menurut Darmawan, film yang akan tayang harus melalui seleksi ketat dan proses panjang dan lobi.  Yang paling penting adalah soal kualitas dan potensi komersialnya.

“Pihak bioskop tetap harus mempertimbangkan potensi komersial film, slot waktu tayang, dan persaingan dengan film-film blockbuster lain. Jadi  kalau bisa dapat slot itu artinya kualitasnya sesuai standar pihak bioskop,”kata Darmawan yang sudah menyutradarai empat film yang tayang di bioskop secara nasional.

Sementara itu, Yaza mengatakan, pencapaian para sineas muda Makassar di industri kreatif ini harus diapresiasi. “Cara paling sederhana menghargainya adalah menonton filmnya di bioskop. Apalagi, filmnya memang berkualitas. Jaminan kualitasnya terbukti karena bisa diterima di bioskop nasional dan tayang di seluruh Indonesia,”katanya.

Membeli tiket untuk satu studio, lanjut Yaza,  tentu tidak berarti apa-apa secara finansial.”Tapi paling tidak kami akan menunjukkan bahwa kami menghargai dan mau menikmati karya mereka yang memang berkualitas,” kata Yaza.

Kepedulian Yaza terhadap industri dan ekonomi kreatif tak lepas dari latar belakangnya sebagai pengusaha. Yaza yang baru memasuki usia 35 tahun ini mengaku memahami betul begitu beratnya persaingan di dunia usaha khususnya bagi generasi muda atau Gen-z dan Millenial. “Kalau tidak saling support, kita akan tersingkir dan mungkin menyerah,” kata Yaza.

 Di PBB, kata dia, kini lebih fokus ke pengembangan gen-z dan millenial. “Dulu partai ini diurus oleh para orangtua, Kini, saatnya kami anak muda yang harus lebih berperan,” katanya. (*)