Jakarta, BentengNews.Com--Lembaga Poltracking Indonesia merilis hasil survei terbaru terkait elektabilitas partai politik jelang Pemilu 2029. Partai Gerindra menjadi partai dengan elektabilitas tertinggi berdasarkan survei terbaru Poltracking. Elektabilitas partai yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto itu mencapai 23,2 persen.
Peneliti Poltracking Indonesia, Yoki Alvetro, mengatakan temuan tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan pada 14 sampai 20 Agustus 2026. Pengukuran elektabilitas dilakukan menggunakan simulasi surat suara dengan menanyakan partai politik atau calon anggota DPR RI yang akan dipilih responden, jika pemilu digelar saat survei dilakukan.
"Partai Gerindra dengan elektabilitas 23,2 persen masih unggul dibanding partai-partai lainnya," kata Yoki dalam pemaparan hasil survei Poltracking Indonesia, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
1. PDIP dan Golkar tempati posisi kedua serta ketiga
Berdasarkan hasil survei tersebut, PDI Perjuangan (PDIP) berada di posisi kedua dengan elektabilitas 11,6 persen. Selanjutnya, Partai Golkar menempati posisi ketiga dengan 10,4 persen. Gerindra, PDIP, dan Golkar menjadi tiga partai dengan elektabilitas tertinggi.
Sementara, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memperoleh elektabilitas 6,2 persen, disusul Partai Demokrat 6,1 persen. Kemudian, Partai NasDem berada di angka 4,4 persen, Partai Amanat Nasional (PAN) 3,4 persen, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 3,3 persen.
Adapun, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memperoleh elektabilitas 2,3 persen dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 1,9 persen. Partai politik lainnya berada di bawah 1 persen.
2. PAN dan PKS gagal lolos parlemen
Mengacu aturan UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, ambang batas parlemen (parliamentary threshold) saat ini masih menggunakan batas 4 persen suara sah nasional.
Jika dibandingkan dengan hasil survei Poltracking, maka hanya enam parpol yang lolos ambang batas parlemen, karena meraih elektabilitas di atas 4 persen. Partai tersebut ialah Gerindra, PDIP, Golkar, PKB, Demokrat, dan NasDem.
Sementara, dua partai lainnya yang lolos parliamentary threshold pada Pemilu 2024, yakni PAN dan PKS, gagal lolos kursi Senayan.
3. Elektabilitas Gerindra cenderung stabil
Poltracking juga memotret tren elektabilitas sejumlah partai politik melalui beberapa survei sejak Oktober 2023. Dalam tren tersebut, Gerindra tercatat berada di posisi teratas dan disebut cenderung stabil, meski sempat mengalami kenaikan pada Maret dan Mei sebelum sedikit menurun pada Juli-Agustus.
"Gerindra ya teratas, cenderung stabil sebenarnya, sempat naik di Maret dan Mei, tapi Juli-Agustus kecenderungan sedikit menurun," kata Yoki.
Sementara, elektabilitas PDIP disebut sempat mencapai 15,7 persen sebelum berada di angka 11,6 persen pada Agustus 2026. Golkar cenderung stabil dan sempat mengalami kenaikan pada Juli dan Agustus.
PKB juga cenderung stabil, meski mengalami sedikit penurunan. Elektabilitas PKB sebelumnya sempat mencapai 8,4 persen pada Oktober 2023. Adapun, Demokrat relatif stabil, dari 5,4 persen pada Oktober 2023, menjadi 6,1 persen dalam survei Agustus 2026.
Sedangkan partai lainnya, NasDem tercatat pernah berada di angka 6 persen dan kini menjadi 4,4 persen. PKS yang sempat mencapai 5,6 persen berada di angka 3,3 persen. PAN disebut cukup fluktuatif, sedangkan PSI cenderung stabil dengan elektabilitas 2,3 persen, dan PPP berada di 1,9 persen.
Selain elektabilitas partai politik, Poltracking menemukan kecenderungan pemilih lebih mempertimbangkan calon anggota legislatif dibandingkan partainya. Sebanyak 53,3 persen responden menyatakan lebih cenderung memilih caleg, sedangkan 24,7 persen lebih cenderung memilih partai politik.
Menurut Yoki, temuan tersebut menjadi catatan bagi partai politik untuk memperkuat kelembagaan, sekaligus meningkatkan kualitas dan popularitas calon legislatif yang mereka usung.
"Figur dari tokoh-tokoh partai politik, calon-calon dari partai politik itu lebih cenderung menjadi alasan publik untuk memilih partai politik, karena kecenderungan dari caleg-calegnya," ujarnya.
Sementara, dari sisi alasan memilih partai politik, faktor keluarga menjadi alasan yang paling banyak disebut, yakni 8,8 persen. Berikutnya, responden menyebut suka dengan pimpinan atau ketokohan partai sebesar 6,8 persen, kinerja kader 5,9 persen, dan cara kampanye yang kreatif 5,8 persen.
Adapun survei ini digelar menggunakan metode stratified multistage random sampling. Pengambilan data lapangan dilakukan pada 14 sampai 20 Agustus 2026. Sampel pada survei ini melibatkan 1.220 responden dengan margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Klaster survei menjangkau 38 provinsi di seluruh Indonesia secara proporsional berdasarkan data jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 2024, sedangkan stratifikasi survei ini adalah proporsi jenis kelamin pemilih.
Pengumpulan data dilakukan pewawancara terlatih melalui wawancara tatap muka, terhadap responden yang telah terpilih secara acak, serta dibantu teknologi aplikasi. Setiap pewawancara mewawancarai 10 responden untuk setiap satu desa atau kelurahan terpilih.(*)
