Abdul El-Sayed Balas Ejekan Trump dan JD Vance dalam Pidato: Panggil Saya Senator, Habibi

BentengNews.Com - Sebelum pemilu sela digelar, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengejek nama calon senator Michigan saat itu, Abdul El-Sayed, dalam rapat umum pada 9 Oktober lalu.

"Orang ini, saya memanggilnya Mohammed El-Fayad. Beberapa orang memanggilnya Abdul. Saya memanggilnya Mohammed. Seseorang bertanya, 'Mengapa?' Saya menjawab, saya tidak tahu. Saya merasa begitu," kata Trump, dilansir First Post.

Ia kemudian bersikeras menggunakan nama "Muhammad" untuk menghibur kerumunan.

"Seseorang berkata, 'NAMANYA BUKAN MOHAMMED.' Namanya Abdul. Tapi saya presiden. Saya bisa memanggilnya apa pun yang saya mau."

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance melangkah lebih jauh dengan menyebut El-Sayed sebagai "ekstremis radikal" dan "psikopat".

El-Sayed Balas Trump dan JD Vance dalam Pidato Kemenangannya

Terlepas dari hinaan bernada Islamofobik yang diterimanya selama kampanye, El-Sayed berhasil memenangkan kursi di Senat.

Dalam pidato kemenangannya pada Selasa (3/11/2026), El-Sayed menyinggung kedua pemimpin tersebut.

"JD, Habibi"

"JD, Habibi, ada ironi yang lezat dalam kenyataan bahwa Anda secara konstitusional berkewajiban untuk melantik saya pada Januari," katanya.

Pernyataan itu disambut sorak-sorai meriah dari para pendukung yang menghadiri perayaan kemenangan.

Sebagai informasi, "habibi" berarti "kekasihku" atau "sayangku" dalam bahasa Arab dan digunakan untuk memanggil laki-laki.

Sementara itu, bentuk panggilan untuk perempuan adalah "habibti".

Ia kembali menyindir Vance dengan merujuk pada persaingan olahraga antara tim University of Michigan Wolverines dan Ohio State University Buckeyes.

Vance merupakan lulusan Ohio State University, sedangkan El-Sayed menempuh pendidikan di University of Michigan.

“Jadi, tahukah kalian apa artinya? Wolverine 1, Buckeye 0,” katanya.

"Panggil Saya Senator"

Senator terpilih itu juga secara khusus menyebut Presiden AS Donald Trump, yang selama ini nampak kerap terlihat kesulitan mengucapkan nama El-Sayed.

"Donald, saya tahu Anda kesulitan mengucapkan nama saya. Jadi, setelah JD melantik saya pada Januari, Anda bisa langsung memanggil saya Senator," katanya, disambut sorak sorai dan tepuk tangan pendukungnya.

Ia juga berterima kasih kepada warga negara bagian Michigan karena telah memberikan kesempatan kepada kandidat yang dianggap paling tidak mungkin menang.

"Terima kasih. Ini semua milik Anda."

"Saya sangat bangga dan merasa terhormat berdiri di sini sebagai senator terpilih Anda dari negara bagian Michigan yang hebat," katanya.

Selain itu, dalam pidato kemenangannya, El-Sayed menyinggung buruknya kampanye Partai Republik.

Ia juga menyoroti dampak perang dengan Iran terhadap kondisi ekonomi masyarakat Amerika.

"Mereka mungkin menunjuk pada nama dan keyakinan saya, tetapi kita semua tahu bahwa nama dan keyakinan saya bukanlah alasan mengapa Anda tidak mampu membeli bensin," kata El-Sayed dalam pidato kemenangannya.

Kemenangan Bersejarah Abdul El-Sayed

Abdul El-Sayed (42), seorang politikus Demokrat sayap kiri, memenangkan pemilihan di negara bagian Michigan yang menjadi medan pertempuran politik pada Selasa (3/11/2026).

Ia menjadi senator Muslim pertama di AS setelah melalui persaingan yang diwarnai serangan sengit dan perselisihan antarpartai, mengutip BBC.com.

El-Sayed mengalahkan Mike Rogers dari Partai Republik setelah menghadapi serangkaian serangan, termasuk tuduhan tanpa dasar yang mengaitkannya dengan terorisme dan perselisihan tingkat tinggi dengan sesama anggota Partai Demokrat.

Rogers, yang didukung Presiden Donald Trump, menggambarkan El-Sayed sebagai seorang komunis serta mengkritik pendiriannya mengenai Israel dan keyakinan Muslimnya.

Setelah menunggu berjam-jam sambil menyaksikan gelombang kemenangan Demokrat di seluruh negeri, para pendukung El-Sayed merayakan kemenangannya dengan meriah ketika ia naik ke panggung.

Mantan administrator kesehatan masyarakat itu berkampanye dengan mengusung platform sayap kiri yang mencakup layanan kesehatan universal dan pajak kekayaan bagi para miliarder.

Kemenangan ini terjadi beberapa hari setelah Haley Stevens, pesaing El-Sayed dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, justru menyatakan dukungannya kepada Rogers, kandidat Partai Republik, hanya beberapa hari sebelum pemilihan berlangsung.

Dalam kampanyenya, El-Sayed, putra imigran asal Mesir, menggambarkan tindakan Israel di Gaza sebagai genosida dan menyerukan penghentian bantuan AS kepada negara tersebut.

Isu ini mendapat perhatian khusus di Michigan, yang merupakan rumah bagi populasi Arab-Amerika terbesar kedua di AS.(*)